Pakai Manekin atau Orang Beneran (for clothing e-commerce website)

Di website ecommerce yang jualan baju, nampilin foto bajunya penting banget, dan juga tidak kalah pentingnya, adalah cara menampilkannya. Dengan foto produk yang baik, bukan tidak mungkin barang jualannya akan terlihat lebih menarik.
Dari hasil brosing tadi, ada 3 cara nampilin produknya:
- bajunya aja.
- pakai manekin
- pakai orang beneran

Tanpa Model
Nampilin bajunya aja adalah cara yang paling mudah, tidak repot, dan nggak butuh biaya. Tentu saja, cara ini ada kekurangannya: kurang menarik, dan kita nggak tau gimana bentuk bajunya kalau dipakai.

Apabila mau pakai cara ini, ngakalinnya supaya lebih baik, coba pakai background kayu, rumput, atau pemandangan. Dengan pemilihan backround yang tepat, warna baju bisa lebih ‘keluar’ dan foto bisa memberikan gaya tersendiri dari baju dan design yang dijual.

Cara dengan menempatkan baju pada objek apapun ini, biasanya cocok untuk jualan tshirt, kaos,

Pakai Manekin
Cara ini memberikan gambaran akan bentuk dari baju apabila digunakan, sehingga calon pembeli bisa ngebayangin kita-kita seperti apa nanti bajunya saat mereka pakai.
Cocok untuk segala jenis baju.
Tips: jangan takut bermain warna untuk background fotonya. Asal warnanya masih sejalan, dan tetap terlihat cocok dengan bajunya, fotonya akan tampak lebih baik dibandingkan depan pake backgroun tembok atau kain putih.

Pakai Model (orang) Beneran
Salah satu alasan model dipakai saat fashion show, adalah agar orang yang ngeliat bisa membayangkan, mood seperti apa yang akan ditampilkan oleh si baju. Begitu juga buat di website ecommerece, supaya pembelinya bisa dapetin ‘feel’ bajunya (halah). Yang paling penting, foto yang dihasilkan kalo pakai model, akan terkesan lebih hidup.

Kesimpulan
Cara menampilkan baju hanya satu dari sekian banyak faktor yang menentukan kesuksesan website clothing. Pemilihan cara menampilkan baju, dapat juga dipertimbangkan dari model baju yang dijual, umur, dan gender.

Semoga bisa membantu, dan jualannya tambah laku. Selamat mencoba :D

Posted in Interfaces | Tagged , , , | Leave a comment

Blogging kalah sama fb dan twitter?

Sore ini Nukman Luthfie bertutur di twitnya soal tenggelamnya aktivitas blogging. Sesuai yang beliau tuturkan, berdasarkan data dari google, sejak 2 tahun lalu blogging memang pamornya mulai turun. Kalah sama Facebook dan Twitter.

Awalnya, blogging hanya sekedar tempat mencurahkan hati dan pikiran, sampai perkembangannya jadi tempat cari duit, sampai media komunikasi perusahaan.

Tapi sebenarnya, apakah blogging benar-benar dikalahkan oleh facebook dan twitter. Kalo gw bilang, ketiga media sosial itu mempunyai areanya masing-masing. Memang ada perpotongan di antaranya. Tapi ibarat bikin mi instan sama mi ayam, sejalan tapi beda proses (*maksa bgt sih*).

Di facebook, kita bisa bikin notes, yang nggak jauh beda sama nge-blog. Tapi kalo di fb nggak bisa meng-custom tampilan, sedangkan untuk kemungkinan postingan kita dikomentarin, di fb pasti lebih besar.

Anggapan gw sama kayak @aryadn : “Twiiter hanya sebagai gateway, direct readers to blog.”

@nukman bilang “Blog akan menjadi basis utama (personal) branding karena kemampuannya menuliskan ide secara utuh.”
@hanshamid bilang “like this”

Akankah blog akan hilang ditelan masa, seperti friendster, multiply dan jejaring sosial lainnya. Menurut gw nggak akan. Yang ada orangnya yang ilang, sedangkan aktifitas blogging itu sendiri akan menjadi sebuah kegiatan yang tetap menyenangkan* (mohon bantuannya ganti kata menyenangkan dengan kata lain yang lebih pas). seperti @sittakarina bertutur pada twitnya “Blogging is fun! tempat kita berbagi & bertutur ide, sekaligus jadi editor ide itu sendiri.”

Menurut gw aktifitas blogging nggak akan ada matinya. Mungkin masalahnya cuma sebagian orang sudah bosen sama tampilan blog, seperti yang ditulis di smashing magazine “The Death of the Blog Post

Posted in Thoughts | Tagged , | Leave a comment

Oh, Integrated Marketing Communication

Kemarin abis ngobrol-ngobrol sama Ferry Zuljanna, seorang web-enthusiast (which also happens to be my brother :) ).

Dan ujung-ujungnya sempet ngomongin soal Integrated Marketing Communication (IMC). IMC sendiri bukan istilah yang baru, apalagi di bidang advertising.

Inti dari IMC adalah sebuah integrasi dari kampanye online dan offline dari sebuah produk atau brand. Kampanye online dapat berupa pay-per-click program, SEO, banner, email ads, micro-blogging, podcast, dan banyak lagi. Sedangkan channel offline marketing contohnya printed ads (koran, majalah), public relation, billboard, radio ataupun TV.

Satu poin penting dalam menjalankan IMC adalah konsistensi informasi, dimana konsumen semestinya harus mendapatkan info yang sama di semua media yang menyentuhnya.

Dengan mengambil sudut pandang konsumen, IMC menggunakan pendekatan berdasarkan data untuk mengidentifikasi keinginan konsumen. Data-data ini bisa diambil dari website analytics, phone order, ataupun email reply.

Tujuan semuanya adalah untuk membangun hubungan antara brand dan konsumen, termasuk bagaimana cara menjalin hubungan dengan konsumen melalui berbagai macam media, dimana di media yang berbeda, cara pemahaman dan pasarnya berbeda pula.

Kenapa IMC itu penting:
Karena Internet (titik). Perkembangan internet telah membuat konsumen dapat mengendalikan pasar, dimana sebelumnya, hal ini hanya dapat dilakukan oleh pembuat (manufacturer).

Sungguh, malam tadi, setelah diskusi dengan Ferry Zuljanna selesai… bikin gw mikir… masih banyak bener yang belum gw pelajari.

Posted in About Advertisement | Tagged , , | 2 Comments

Engkau adalah jiwa yang dilahirkan mulia

Engkau adalah jiwa yang dilahirkan mulia,

maka semua kegelisahan mu

adalah upaya hati mu untuk mengembalikan kemuliaan

yang telah menjadi bakat kelahiran mu.

-MT

Posted in Others | Tagged | Leave a comment

Merk Apple dan Reputasi Google

Secara literal, Brand diartikan sebagai merk, dimana merk dijadikan acuan konsumen dalam membeli sebuah produk. Misalnya, Apple. Sebuah merk, merepresentasikan lebih dari sekedar logo dan motto atau slogan.

Contoh lainnya, Bendera Indonesia adalah sebuah merk, dimana terdapat nilai-nilai di dalamnya. Nilai yang patut dihargai dan dijunjung tinggi. Nilai-nilai tersebut adalah Pancasila dan UUD 1945 Tetapi merk tersebut bisa jatuh manakala nilai-nilainya tidak dapat dijaga.

Seperti Apple… McDonald… atau Coca Cola… konsumen memilihnya karena merk-merk tersebut memberikan apa yang konsumen inginkan, dan itu adalah pilihan yang aman.

Sedangkan Google, bergantung pada reputasinya. Reputasi tidaklah jauh berbeda dengan merk, hanya lebih rapuh. Reputasi dapat hilang dalam sekejap. Karena menjaga reputasi berarti harus mempunyai kredibilitas. It means that you must to walk the walk, not talk the talk.

Merk yang melakukan bisnis, sedangkan reputasi yang menangani hal politisnya. Lainnya, seperti open source, dibutuhkan reputasi untuk memberikan hak yang adil bagi sang pembuat dan pemakainya. Dimana hampir tidak ada demokrasi; apabila konsumen tidak suka, mereka dapat dengan mudah meninggalkannya.

entah apalah ini semua. mungkin bisa diaplikasikan untuk kehidupan sehari-hari. personal branding, corporate branding, and your reputation.

disadur dari artikel Dana Blankenhorn di ZDNet.com dengan judul yang sama.

Posted in Thoughts | Tagged , , , , | Leave a comment

Di Sana… Di Sini…

Bis @ Sawangan

Bis @ Sawangan

Kaget juga pas ngeliat bis lagi isi bensin, pom bensinnya jadi terasa kecil gara-gara bis segede gitu masuk. Di Sawangan, 19 Maret 2010.

ATM Kuning Oranye

ATM Kuning Oranye

Maklum, baru punya rekening baru, terus baru ngeliat ada ATM warnanya menyilaukan, hehe. ATM Danamon Cinere, 20 Maret 2010

Gatsu from Telkom

Gatsu from Telkom

15 Maret 2010. Diambil dari gedung telkom lt. 10, Grha Citra Caraka. Sebelah kiri, Gedung LIPI, sebelah kanan, Hotel Kartika Chandra, di tengah-tengahnya Jl. Jendral Gatot Subroto

Margonda 5.30am

Margonda 5.30am

Pulang dari kosannya Uji Baskoro. Ternyata jam setengah 6 pagi, Jalan Margonda yang ke arah Jakarta udah padet banget. 17 Maret 2010.

Sepatu @ Pasaraya

Sepatu @ Pasaraya

Liat-liat sepatu di Pasaraya Blok M. 27 Februari 2010.

IMG00111 20100321 1504 Di Sana... Di Sini...

Bengkel @ Tanah Baru

Nganterin pacar service motor di bengkel Catur Putra Jaya di Tanah Baru, Depok. Mekanik di sini asik-asik. Harga juga lebih murah dibandingin bengkel lainnya. 21 Maret 2010.

IMG00009 20100312 1312 Di Sana... Di Sini...

Detos from Margo

Depok Town Square dilihat dari Margo City Square. 12 Maret 2010.

Posted in Others | Tagged , , | Leave a comment

Setelah Jadi Freelance…

Langkah berikutnya setelah jadi freelance? hmm…. Kalau jadi orang kantoran, udah jelas career path nya, tapi kalau udah jadi freelance? Ada beberapa alternatif yang dibuat sama FreelanceSwitch.com;

Bikin Perusahaan Sendiri

Tujuannya jelas, adalah untuk mengambil project lebih banyak, dan lebih besar lagi.

Bikin Produk

Pindah dari service-oriented, menjadi product-oriented.

Continue reading

Posted in Freelance | Tagged | Leave a comment

Checklist untuk Konsistensi

Beberapa kriteria untuk design website (atau apapun) sehingga jadi konsisten:

Tipografi

  • Apakah spasi tiap paragraf sudah sama?
  • Bagaimana dengan alignment nya?
  • Apakah pemilihan font sudah konsisten
  • Apakah tipografi untuk navigasi sudah dapat di prediksi di tiap halaman? (sebaiknya sudah)

Continue reading

Posted in Interfaces | Tagged , , , | 1 Comment

Gentlemen’s Agreement

shake hand concepts 1 300x129 Gentlemens Agreement

Gentelemen’s Agreement adalah sebuah perjanjian informal antara 2 atau lebih pihak. Biasanya tidak terdapat perjanjian tertulis dalam kesepakatan ini. Yang menjadi inti adalah kedua belah pihak mengerti dan berkomitmen atas kesepakatan ini.

Continue reading

Posted in Freelance | Tagged , , | 1 Comment

If Internet Are Dynamic, Why Your Website Dont’s?

Internet is dynamic, and yourself, too. So, why your website defines who you are. As a person or as an institution.

Posted in About Web | Tagged , , | 2 Comments